Archive for the ‘perkebunan’ Category

kebun nenas

Februari 21, 2010

Selasa, Agustus 19, 2008 jam 17:37

NENAS
Ananas comosus (Linnaeus) Merr.

Tulisan ini bersumber utamanya dari : TTG BUDIDAYA PERTANIAN Hal. 1 – 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Dirubah dari sumber asli http://www.ristek.go.id yang ditambah/dikurang dari sumber internet lainnya.


photo ini diambil di kebun atan yaya
nenas varietas queen bangkinang

PEMBUKAAN
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Edisi Kedua Cetakan kesembilan tahun 1997 Halaman 682 lema/entry huruf N disebutkan :

na.nas n 1 tanaman tropis dan subtropis, buahnya berbentuk bulat panjang, kulit buahnya bersusun sisik berbiji mata banyak, daunnya panjang berserat dan berduri pd kedua belah sisinya, daging buahnya berwarna putih, kuning atau putih kekuning-kuningan, mengandung cairan banyak, rasanya manis, asam atau manis agak asam, dimakan sbg buah segar atau diawetkan menjadi selai, sirop, dsb, Ananas comusus; 2 buah nanas;
— belanda nanas yang diambil serat daunnya, Agave cantala; — hias tanaman hias yg berhelai daun panjang meruncing, lurus atau bergelombang dng warna daun belang-belang kuning dan hijau muda, Cryptanthus bivittatus atau warna daun merah berbelang putih, atau warna daun merah berbelang putih, Cryptanthus fosterianus; — kista nanas belanda; — seberang nanas belanda; — tali nanas belanda

kebun mangga

Februari 21, 2010

CIREBON, KOMPAS.com – Luasan lahan pohon mangga yang dibudidayakan untuk bisa panen di luar musim atau off season di Kabupaten Cirebon terus bertambah. Saat ini, lahannya sudah mencapai lima persen dari total lahan kebun mangga di Cirebon yang sekitar 9.000 hektar.

Menurut Herman Hidayat, Kepala Seksi Buah-buahan Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon, luas kebun mangga yang sudah dibudidayakan panen di luar musim saat ini berkisar 400-500 ha, atau lima persen dari total luas kebung mangga di Cirebon.

Peningkatan luasan lahan itu dipicu keuntungan panen di luar musim yang lebih besar dari panen biasanya. Sebab, harga jual buah mangga off season dua kali lipat dari harga saat panen raya. Contohnya, saat panen raya, harga mangga gedong gincu yang matang pohon Rp 12.500-Rp 15.000 per kilogram, sedangkan harga saat panen di luar musim mencapai Rp 25.000 per kg.

“Petani sekarang sudah pandai. Mereka tahu keuntungan panen off season lebih besar, sehingga bertahap luas kebun off season meningkat,” ujar Herman, Kamis (28/5). Jenis mangga yang dibudidayakan pada lahan-lahan yang sudah bisa panen luar musim adalah gedong gincu, cengkir, dan arum manis.

Beberapa wilayah sentra mangga di Cirebon yang telah menerapkan pembudidayaan panen luar musim adalah di Kecamatan Sedong, Greged, Astanajapura, dan Beber. Lahan terluas yang t

kebun pisang

Februari 21, 2010

pisang dempet di kebun kecil cijapun

Pisang (Musa paradisiaca, Linn.) adalah jenis buah yang masuk daftar favorit saya. Salah satu sebabnya, semasa kecil saya membaca sebuah artikel pada sebuah majalah tentang harga pisang di satu negeri tak tropis. Pisang dijual perbuah, bukan per sisir atau per tandan di pasar kota kecil kami.

Sebab kedua adalah Korrie Layun Rampan. Satu bukunya yang saya baca semasa SD, isinya melulu tentang pisang. Setiap pisang punya cerita.

Sebab ketiga (yang sebenarnya hanya bumbu), adalah ketika datang seorang teman. Sengaja tandang menengok kerusakan hutan hujan tropika di Musi Rawas. Di sana hutan dilubangi tambang emas milik pemodal dari negerinya. Australia. Di tepi Musi dia membeli setandan pisang emas dan memanggulnya kemana saja, macam jaman Mr. Flinstone.

Betapa pisang lokal dihargai. Dia tak borong Apel Washington atau Kiwi Selandia Baru. Mungkin juga sudah bosan. Tapi bila sekadar bosan dengan yang pernah, gila saja bila pisang harus setandan.

pisang dempet di kebun kecil cijapunpisang dempet di kebun kecil cijapun

Semasa kecil, saya teraneh-aneh dengan fenomena dua pisang berdempet macam kembar siam. Istilah kampung saya ‘pisang kembar’. Makin aneh ketika ternyata saya dilarang makan si pisang kembar. “Jika dimakan, maka nanti punya anak kembar,” demikianlah bunyi larangan itu.

Pada gilirannya, ketika saya mulai berkebun di pedalaman Selatan Sukabumi, seorang teman dari kampung terdekat bertanya sekaligus menawarkan. Ada sejenis pisang lokal, yang nyaris semua pisang yang bergantungan pada tandan, berkecenderungan dempet satu sama lain.

Meski setengah tak yakin, saya memercayai teman saya itu. Wong memang keanekaragaman hayati di negeri ini susah terbilang. Membaca geleng kepala saya, sang teman berjanji membawakan bibitnya. Cukup jauh. Di kampung istrinya. Dan beberapa saat kemudian dia membawa tiga bibit pisang. Saya tanam, lah… di dekat pondok.

Pisang-pisang itu tumbuh baik. Bahkan dua pohon sudah berbuah. Benar. Buahnya dempet. Sayang belum matang. Jadi tak bisa bercerita tentang rasa.

Tak takut dengan larangan semasa kecil? Takut beranak kembar? Ajajajaja… 🙂

*Gandari pun tak takut punya 100 anak hasil menendang-nendang segumpal darah, dan jadilah Kurawa*

kebun kelapa sawit

Februari 21, 2010

Selain itu biasanya kalau habis hujan orang sekitar banyak yang nyari jamur di kebun sawit tuk di sayur enak loh

Perkebunan sawit disini juga tergolong lengkap bahkan pabriknya juga ada, dan pengelolaan limbahnya pun “katanya” di tampung di tempat penampungan dan di buang… (maaf Saya tidak tahu membuangnya kemana)

Dan ketika saya masuk di perkebunan itu saya menemukan anak sungai yang airnya sangat hitam (mungkin limbah atau juga bukan) dan mengarah ke sungai, aku jadi bingung air apa itu kok berakhir di sungai

kalo limbah kan tidak boleh di buang ke sungai, jadi saya pikir ya ini pasti bukan limbah iya to…(maklum ne bukan bidang saya)