Archive for the ‘wayang orang’ Category

Februari 21, 2010

Nostalgia Dengan Wayang Kulit di 17 Agustus’ .MERDEKA!!!

August 16, 2009 by ajunkwees

Salah satu pertunjukan yang paling saya sukai adalah wayang kulit. Dari kecil saya sudah diperkenalkan dengan kebudayaan jawa yang mengadopsi cerita Mahabarata dan Ramayana dari hindustan ini. Memang saya tidak pernah secara langsung atau terliteratur belajar tentang wayang, namun hanya sepenggal-sepenggal yang terkumpul menjadi satu pengetahuan.

Sewaktu kecil, saya sering diajak ayah saya untuk menonton pertunjukan itu di balai desa, atau tempat mana yang “nanggap” (istilah untuk menggelar konser wayang) yang memang pada waktu saya kecil pertunjukan itu masih sering diadakan. Biasanya kalau di desa, ada acara “bersih deso” atau syukuran desa yang mengikutkan pagelaran wayang. Pada waktu kecil sih, simpel saja kenapa saya suka wayang yaitu karena ada “perang” nya. Anak laki-laki pasti akan tertarik disuguhi pertunjukan yang memperlihatkan seorang jagoan yang membabat habis musuh-musuhnya yang jahat, seperti juga ketika nonton “Satria Baja Hitam” waktu itu. Hehe. Dan pada waktu itu tokoh wayang favorit saya adalah “Bima” atau “Werkudara” yang bertubuh gagah perkasa dan sakti mandraguna.

Namun seiring waktu pengetahuan saya tentang wayang tentu saja bertambah. Dari pelajaran sekolah Bahasa Jawa misalkan. Di pelajaran itu tidak sedikit yang menyinggung Wayang dan Segala ceritanya. Bahkan kalau boleh saya katakan 80% dari pelajaran Bahasa Jawa selalu ada unsur Wayang, atau bisa dikatakan juga dalam Wayang itu berisi hampir semua kesusastraan Jawa. Pengetahuan tentang wayang juga saya dapatkan pada artikel-artikel “Lakon” surat kabar lokal, yang isinya sebenarnya menceritakan kehidupan masa kini, isu aktual tentang politik dan ekonomi, yang semuanya tertransfer kedalam penokohan dan cerita wayang.

Dari itu semua, ternyata wayang (terutama wayang kulit) adalah suatu karya gubahan yang sangat dahsyat. Betapa tidak, karena dalam setiap lakon wayang itu selalu ada konsep ketuhanan (Tauhid) dan Kehidupan (Muamalah). Tentu saja hal itu terasa tidak salah kalau tahu bahwa yang menggubah cerita Wayang Kulit dari cerita mahabarata di hindustan adalah Sunan Kalijogo. Salah seorang wali penyebar Agama Islam di Jawa. Kultur politheisme Hindu yang menyembah banyak dewa, dikonsep ulang menjadi kultur Islam yang menganut satu Tuhan dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada kultur sebelumnya. Paham akan Islam disisipkan dengan cantik namun membutuhkan interpretasi yang benar dan dalam.

Seperti pada “Jimat Kalimasada” yang merupakan penentu keselamatan dunia-akherat. Tentu saja dalam Islam percaya pada jimatpun merupakan suatu hal yang Haram, namun dibalik itu nama “ Kalimasada” merupakan berarti “ Kalimat Syahadat” yang merupakan ikrar seorang kepada Allah SWT untuk memeluk dan menjalankan Islam.

Selain itu petuah-petuah dari cerita wayang adalah buah dari penggambaran kehidupan itu sendiri. Dalam wayang digambarkan perwatakan yang lengkap, mulai dari watak paling baik sampai tokoh yang memiliki watak angkara murka. Dan watak tokoh-tokoh itu konon tergambar melalui bentuk dan gubahan wajah, serta warnanya. Benar-benar sesuatu rumusan bijak yang terukir. Dalam cerita wayang selalu menyampaikan petuah tersirat yang bertujuan untuk meningkatkan budi perkerti yang baik dan luhur, dan etika yang mengadopsi Islam dan etika Jawa. Jadi kalau seorang berkelakuan buruk atau menyimpang dari budi pekerti dan etika jawa maka orang tua akan menyebutnya “ora jowo” (tidak jawa.red).

Nahh, kemaren pas saya lagi “malem mingguan” di Lab, saya diberitahu tmen lewat chatting bahwa di salah satu stasiun TV ada wayang kulit. Ternyata pageleran kali ini diadakan di Istana Negara dan dihadiri bapak Presiden dan Para Mentri. Mungkin dalam menyambut HUT kemerdekaan, gumam saya. Jadilah saya tidak mengerjakan apa-apa di Lab dan ngendon di depan TV Lab sampe pagi. Dosen saya sampe geleng-geleng kepala’. hahaha’(ini khan malem minggu bapak’ J)

Dalam pagelaran itu juga terdapat “Sinden” yaitu penyanyi pengiring tembang-tembang jawa yang berasal dari Jepang dan US. Nahh, ternyata mereka tidak hanya bisa “nyanyi “ saja namun bahasa jawa nya juga lancar. Terlihat bahwa mereka sangat antusias untuk belajar kebudayaan dari kita. Lalu??? Apakah kita sendiri sudah melestarikan budaya nenek moyang kita sendiri?? Apakah kita lebih tertarik kepada budaya Hedonisme Barat dan lain-lain padahal hal tersebut sama sekali tidak bermanfaat dan tidak pantas kita tiru. Jadi apa kebanggan kita sebagai bangsa yang merdeka?? Apakah kita benar-benar sudah bangga dengan kebudayaan kita sendiri, dengan adat istiadat nenek moyang kita?? Jika kita tidak bisa menjaga itu saja, lantas mengapa kita mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang merdeka?

Merdeka itu adalah simbol dari “eksistensi” , simbol dari “diakui”. Dan diakui itu akan tercapai apabila kita memegang teguh prinsip hidup kita.

Sedangkan kultur, adat-istiadat ,adalah “prinsip” yang berdasar pada nilai-nilai Agama.

Merdeka itu adalah tidak terbelenggu. Tidak terbelenggu dari rasa ketakutan akan hidup susah dan melarat, sehingga segala cara, korupsi, dilakukan untuk menjamin dari rasa takut itu.

Merdeka itu memberi, bukan menuntut. Karena hanya seorang yang kekurangan akan mau menjadi budak untuk diberi upah, dan orang yang menuntut adalah seorang yang tidak bisa mandiri’.

Merdeka itu tidak diam dan terbatas. Karena orang yang diam tanpa bisa berkarya adalah orang yang terbatas.

Juga bukan tujuan akhir, karena merdeka adalah suatu “gerbang” untuk berusaha beribadah secara mutlak

Merdeka itu adalah Soekarno, Hatta, Soedirman, Aku dan Anda semua yang masih punya HARAPAN untuk lebih baik. Harapan untuk Indonesia tercinta’

wayang orang

Februari 21, 2010

tarian
Selain tari-tari klasik, di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Beberapa contoh kesenian tradisional :

a. Tari Dolalak, di Purworejo.
Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung, rebana, kendang, kencer, dllnya. Menurut cerita, kesenian ini timbul pada masa berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain.

b. Patolan (Prisenan), di Rembang.
Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Seni gulat rakyat ini berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai antara kecamatan Pandagan, Kragan, Bulu sampai ke Tuban, Jawa Timur.

c. Blora.
Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang, Barongan dan Wayang Krucil(sejenis wayang kulit terbuat dari kayu).

d. Pekalongan
Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug, terbang, dllnya. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri, sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek, kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen.

e. Obeg dan Begalan.
Kesenian ini berkembang di Cilacap. Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang), serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang (dukun) yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar.
Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap, Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. Yang bersifat khas Banyumas antara lain Calung, Begalan dan Dalang Jemblung.

f. Calung dari Banyumas
Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyi- bunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu, lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita. Sedangkan untuk Begalan biasanya diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. Yang mengadakan upacara ini adalah dari pihak orang tua mempelai wanita.

g. Kuda Lumping (Jaran Kepang) dari Temanggung
Kesenian ini diperagakan secara massal, sering dipentaskan untuk menyambut tamu -tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara

h. Lengger dari Wonosobo
Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit. Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar.

i. Jatilan dari Magelang
Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende, kenong dll. Dan pada puncaknya pemain dapat mencapai tak sadar.

j. Tarian Jlantur dari Boyolali
Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang, dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro.

k. Ketek Ogleng dari Wonogiri
Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji, mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri. Ceritera ini kemudian diubah menurut selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali.