kebun pisang

pisang dempet di kebun kecil cijapun

Pisang (Musa paradisiaca, Linn.) adalah jenis buah yang masuk daftar favorit saya. Salah satu sebabnya, semasa kecil saya membaca sebuah artikel pada sebuah majalah tentang harga pisang di satu negeri tak tropis. Pisang dijual perbuah, bukan per sisir atau per tandan di pasar kota kecil kami.

Sebab kedua adalah Korrie Layun Rampan. Satu bukunya yang saya baca semasa SD, isinya melulu tentang pisang. Setiap pisang punya cerita.

Sebab ketiga (yang sebenarnya hanya bumbu), adalah ketika datang seorang teman. Sengaja tandang menengok kerusakan hutan hujan tropika di Musi Rawas. Di sana hutan dilubangi tambang emas milik pemodal dari negerinya. Australia. Di tepi Musi dia membeli setandan pisang emas dan memanggulnya kemana saja, macam jaman Mr. Flinstone.

Betapa pisang lokal dihargai. Dia tak borong Apel Washington atau Kiwi Selandia Baru. Mungkin juga sudah bosan. Tapi bila sekadar bosan dengan yang pernah, gila saja bila pisang harus setandan.

pisang dempet di kebun kecil cijapunpisang dempet di kebun kecil cijapun

Semasa kecil, saya teraneh-aneh dengan fenomena dua pisang berdempet macam kembar siam. Istilah kampung saya ‘pisang kembar’. Makin aneh ketika ternyata saya dilarang makan si pisang kembar. “Jika dimakan, maka nanti punya anak kembar,” demikianlah bunyi larangan itu.

Pada gilirannya, ketika saya mulai berkebun di pedalaman Selatan Sukabumi, seorang teman dari kampung terdekat bertanya sekaligus menawarkan. Ada sejenis pisang lokal, yang nyaris semua pisang yang bergantungan pada tandan, berkecenderungan dempet satu sama lain.

Meski setengah tak yakin, saya memercayai teman saya itu. Wong memang keanekaragaman hayati di negeri ini susah terbilang. Membaca geleng kepala saya, sang teman berjanji membawakan bibitnya. Cukup jauh. Di kampung istrinya. Dan beberapa saat kemudian dia membawa tiga bibit pisang. Saya tanam, lah… di dekat pondok.

Pisang-pisang itu tumbuh baik. Bahkan dua pohon sudah berbuah. Benar. Buahnya dempet. Sayang belum matang. Jadi tak bisa bercerita tentang rasa.

Tak takut dengan larangan semasa kecil? Takut beranak kembar? Ajajajaja… 🙂

*Gandari pun tak takut punya 100 anak hasil menendang-nendang segumpal darah, dan jadilah Kurawa*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: